jump to navigation

Ekspresi Arsitektur 24 December 2009

Posted by Bayu Saputra in Architecture.
add a comment

Arsitektur sebagai sebuah desain dapat merupakan sebuah media komunikasi dan ekspresi. Ekspresi merupakan aspek kreatif dalam arsitektur. Ekspresi suatu bangunan hanya dapat dicapai bila bangunan tersebut merupakan ekspresi yang menyeluruh (Snyder, 1984). Ekspresi merupakan ungkapan perasaan seseorang, salah satu contohnya yang dapat diamati adalah pada sebuah musik (Scruton, 1979). seorang pengubah musik akan menuangkan perasaannya pada musik yang dibuatnya, sehingga musik hasil gubahannya dapat dikatakan sangat berkaitan dengan suasana perasaan ketika musik tersebut digubah.
Scruton (1979) mengungkapkan adanya perbedaan tipis antara ekspresi yang muncul dalam karya dengan karakter perancang. Karena tipisnya perbedaan tersebut sehingga dapat dikatakan ekspresi sebuah karya merupakan abstrak dari karakter perancang. Secara lebih rinci diungkapkan bahwa ekspresi merupakan bagian dari perwujudan inner life seseorang (Scruton, 1979). Berkaitan dengan perasan sebagai dasar yang kemudian diungkapkan. Ungkapan perasaan tersebut merupakan suatu ekspresi yang dapat menimbulkan penafsiran yang tidak sama satu dengan lainnya.
Menurut Coliingwood (1979) ekspresi yang terdapat pada sebuah objek memiliki sifat subjektif. Dalam satu objek yang sama ekspresi yang muncul dan ditangkap oleh seseorang dengan orang lain akan dapat berbeda. Pada sebuah objek juga memungkinkan memunculkan ekspresi yang tidak menentu yang disebut ambiguitas ekspresi. Ambiguitas ekspresi yang terdapat dalam sebuah objek dapat disebabkan oleh adanya dimensi waktu. Dimensi waktu dapat berkaitan dengan masa. Sehingga dalam satu objek, ekspresi di masa lalu juga berbeda dengan ekspresi dimasa kini.

Di Indonesia, dapat kita lihat pada E.X Plaza Indonesia, karya Budiman Hendropurnomo (DCM). Dalam buku “Indonesian Architecture Now”, Imelda Akmal menulis bahwa gubahan massa E.X yang terdiri atas lima buah kotak dengan posisi miring adalah hasil ekspresi dari gaya kinetik mobil-mobil yang sedang bergerak dengan kecepatan tinggi dan merespon gaya sentrifugal dari Bundaran Hotel Indonesia yang padat. Kolom-kolom penyangga diibaratkan dengan ban-ban mobil, sedangkan beberapa lapis dinding melengkung sebagai kiasan garis-garis ban yang menggesek aspal. Dari konsep-konsep tersebut, gaya kinetik merupakan sebuah obyek yang abstrak (intangible). Kita tidak dapat melihat gaya kinetik secara visual. Akan tetapi, ban-ban mobil merupakan obyek yang dapat kita lihat secara visual (tangible). Perpaduan antara gaya kinetik (obyek abstrak) dan ban-ban mobil (konkrit) inilah yang menghasilkan metafora kombinasi.

JEMBATAN TIMPAH 22 December 2009

Posted by Bayu Saputra in Architecture.
add a comment


salah satu jembatan yang menghubungkan kota Palangkaraya dengan bontok terputus akibat robohnya jembatan ini,,, apakah ini salah perhitungan ? atau bagaimana !!! tapi sekarang dalam tahap perbaikan, bahkan sudah hampir selesai…. mudah-mudahan tidak ROBOH lagi… hehehhe…… bisa jadi pariwisata MINAT KHUSUS juga lho…..

Tourism Planning 20 December 2009

Posted by Bayu Saputra in Architecture Tourism.
add a comment


Kegiatan pariwisata merupakan salah satu bentuk kegiatan industri berbasis masyarakat atau komunitas, artinya bahwa sumber daya dan keunikan komunitas lokal baik berupa elemen fisik maupun non fisik yang melekat dalam masyarakat merupakan salah satu unsur penggerak utama kegiatan pariwisata. setidaknya kita dalam merencanakan suatu industri pariwisata hendaklah kita memperhatikan masyarakat baik industri yang kelola maupun atraksi lainnya yang dapat dijual dari masyaralat, pelibatan masyarakat sebagai stakeholder sangat penting dalam pengembangan industri pariwisata

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.